Manusia dapat didefinisikan menjadi banyak versi sesuai dengan sudut pandang atas kebutuhannya, kebiasaanya dan lain sebagainya. Secara umum, manusia diartikan sebagai makhluk sosial karena tidak bisa hidup sendiri tanpa orang lain. Ada juga teori mengenai bahwa manusia adalah salah satu makhluk ekonomi.

Pengertian manusia sebagai makhluk ekonomi atau (homo economicus) adalah manusia dipandang sebagai makhluk yang hidup secara rasional dimana Ia selalu ingin memenuhi kebutuhan hidup untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan. Biasanya hal yang berhubungan dengan ekonomi erat kaitannya dengan kekayaan materi dan kebendaan.

Dalam teori ekonomi, manusia senantiasa selalu kurang meski kebutuhan standar hidup sudah terpenuhi. Misalnya, ingin punya mobil sudah tercapai tapi masih ingin beli lagi. Contoh umumnya adalah smartphone yang bisa jadi satu orang memiliki dua atau bahkan tiga smartphone.

Anggapan bahwa manusia sebagai makhluk ekonomi yang tak pernah puas dengan kecukupan, timbulah berbagai macam teori ekonomi. Teori ini yang mendasari untuk keberlanjutan hidup manusia khususnya pemenuhan kebutuhan dan kekayaan.

Untuk dapat memenuhi kebutuhan dan mencapai keinginan manusia memerlukan penghasilan dari keuntungan seperti berdagang, berbisnis dan lainnya. Dari keinginan untuk selalu untung ini munculah pemikiran ekonomi agar faktor-faktor produksi dapat dioptimalkan dan berproduksi secara efisien.

Tetapi dalam ekonomi syariah, teori-teori ekonomi yang umumnya diajarkan berbanding terbalik. Sebenarnya, alat pemenuhan kebutuhan manusia tidak terbatas dan tersedia di dunia, sedangkan kebutuhan manusia itu sifatnya terbatas. Jadi, konsep ekonomi syariah ini seperti mensyaratkan manusia untuk merasa cukup dan bersyukur.

Faktor pendorong manusia untuk melakukan kegiatan ekonomi

Setiap manusia memiliki kebutuhan hidup yang berbeda. Antar satu anggota keluarga saja, kebutuhan ekonominya sudah sangat berbeda. Hal ini tergantung dari beberapa faktor pendorong sebagai berikut.

1. Jenis kelamin dan Usia

Hal mendasar yang membedakan dan mendorong aktivitas ekonomi adalah perbedaan jenis kelamin. Mungkin bagi pria, memakai setelan jas sudah cukup untuk menghadiri acara. Namun, bagi wanita untuk menghadiri acara diperlukan pakaian yang bagus, perhiasan, tas, riasan wajah dan masih banyak lagi.

Selain jenis kelamin, usia manusia juga menjadi faktor pendorong aktivitas ekonomi untuk meraih penghasilan yang maksimal. Contohnya ketika masih bayi, kebutuhannya hanya sandang, papan, pangan. Berbeda ketika remaja, kebutuhannya akan berbeda misalnya seperti pakaian bagus, alat sekolah dan lain sejenisnya.

2. Status sosial

Manusia tidak bisa luput dari aktivitas sosial. Sebab, aktivitas ekonomi manusia juga merupakan bagian dari aktivitas sosial. Hal ini dikarenakan dalam bertransaksi, pasti ada hubungan komunikasi dua arah antar manusia. Klasterisasi sosial juga secara alami terjadi. Hal ini juga mendasari pelaku ekonomi giat bekerja untuk memenuhi strata sosialnya.

Dalam lingkungan perkotaan dan perumahan elit, orang-orang kaya pasti kebutuhannya bertambah. Hal ini tentu dilakukan untuk menjaga harga diri dan kehormatannya. Atas dasar inilah mereka bekerja dan melakukan aktivitas ekonomi lebih giat.

3. Tingkat pendidikan

Dunia pendidikan juga menjadi faktor kenapa manusia melakukan aktivitas ekonomi. Ilmu pengetahuan adalah komoditas yang bisa disebut juga sebagai barang ekonomi. Karyawan, guru, dosen dan tenaga pendidik lainnya juga bisa disebut sebagai pelaku ekonomi. Karena mereka bekerja dan dibayar.

Sedangkan murid, siswa, atau mahasiswa juga disebut sebagai pelaku ekonomi untuk memenuhi kebutuhan belajarnya. Misalnya sebagai mahasiswa sambil bekerja untuk membeli buku, membayar uang kuliah dan lainnya. Sehingga, tingkat pendidikan seseorang juga bisa menjadi faktor pendorong aktivitas ekonomi.