Passing grade adalah hasil ratio antara daya tampung (kuota) dengan peminat pada suatu jurusan tertentu. Setiap jurusan di berbeda universitas nilai passing grade nya selalu berbeda karena mengikuti jumlah peminat pada jurusan di universitas tersebut.

Pada website pendidikan tinggi maupun website resmi lainnya, tidak pernah memposting atau membakukan passing grade sebagai tolak ukur dalam penerimaan ujian masuk perguruan tinggi. Khususnya SBMPTN, passing grade sering dijadikan pedoman untuk mengerjakan banyaknya soal yang harus benar.

Kalkulasi passing grade (PG) tidak ada standard baku dan tidak ada metode resmi yang digunakan. Namun, hingga kini passing grade terus dipercayai sebagai tolak ukur kelulusan ujian masuk perguruan tinggi.

Cara dasar menghitung PG Jurusan

Cara menghitung PG suatu jurusan sebenarnya mudah, namun data PG bisa kamu akses secara gratis pada beberapa platform website bimbel. Cara menghitung passing grade dapat dirumuskan sebagai berikut.

Jumlah jawaban benar : jumlah soal x 100% = passing grade. Sebenarnya, kamu tidak perlu menghitung besar passing grade jurusan karena kalian dapat melihat data passing grade pada beberapa media online.

Daya tampung (kuota) dan peminat (pendaftar) suatu jurusan di website resmi universitas kadang juga dijadikan acuan dalam menghitung PG. Data tersebut dapat dijadikan acuan sebagai standar berapa jumlah soal yang harus kalian jawab dengan benar.

Cara menghitung passing grade sekarang sudah berbeda dari tahun tahun sebelumnya. Jika pada tahun 2017 hingga sebelumnya, penilaian SBMPTN menggunakan pengurangan nilai, pada penilaian tahun 2018 hingga sekarang sudah berbeda, tidak lagi menggunakan sistem pengurangan (-1) apabila menjawab salah.

Sistem penilaian SBMPTN kali ini hanya menggunakan sistem nilai 1 untuk jawaban benar dan nilai 0 untuk jawaban salah. Namun, ada penilaian lagi pada soal yang dijawab benar pada ‘kategori’ sulit. Untuk tahap ini kita kesampingkan dulu.

Prediksi kuat mengenai perhitungan passing grade telah tersebar di berbagai platform online. Resmi atau tidak, passing grade dihitung dari pertambahan nilai ujian TPA 30% + 70% nilai TKD. Hal inilah yang menjadi dasar besarnya passing grade.

Perhitungan passing grade tidak ada yang baku

Sudah dijelaskan bahwa passing grade merupakan presentase yang tidak baku dan tidak resmi dari suatu universitas. Presentase ini muncul berdasarkan asumsi dan prediksi semata. Percaya atau tidak, kamu bisa menggunakan atau tidak menggunakan passing grade sebagai acuan.

Metode perhitungan passing grade bisa berbeda-beda pada setiap orang. Ada yang menggunakan jumlah kuota, jumlah peminat, nilai tertinggi dan rata-rata peserta SBMPT yang lolos tahun sebelumnya atau menggunakan dasar penjawaban soal yang benar. Tidak ada yang baku, tapi bisa menjadi acuan dalam mengejar target, daripada tidak ada pedoman bukan?

Apakah harus percaya passing grade sebagai acuan lulus?

Ketika PG jurusan teknik elektro tahun lalu diketahui 57% dan diketahui kuota jurusan tersebut 160 kursi, lalu ternyata PG tertinggi peserta ujian hanya mencapai 55%. Apakah semua peserta ujian akan gagal dan membiarkan 160 kursi kosong? Tentu saja tidak. Sebab, PG bisa naik turun mengikuti kuota dan kapasitas peserta didik pada kurun waktu tertentu.

Kemudian pada kasus jurusan yang mendominasi pada kemampuan tertentu, misalnya teknik elektro membutuhkan peserta dengan nilai bagus di pelajaran fisika, matematika dan kimia. Sehingga, meskipun Ia mendapat PG akhir kurang dari 50% bisa saja lolos karena soal yang dijawab benar paling besar pada pelajaran fisika, matematika maupun kimia.

Jadi, apakah harus percaya dengan passing grade? Boleh percaya, boleh tidak.